Masjid yang Ramah

Kemarin, waktu lagi jalan2 disekitaran kampus STEKPI dan sekitarnya. Habis nganter temen pulang pergi dari sekolah -> rumah -> jalan2 -> balik lagi ke rumahnya -> kembali ke rumah gw. Pas lagi dijalan, Adzan Maghrib bersahutan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6.30 sore “wah kesorean nih, mesti cari musholla dulu buat sholat maghrib” di sekitar Jalan Buncit Raya (kalo gak salah sekarang Jalan Kemang Raya, bener gak??).

Karena itu jalan besar, pinggir2an gak ada sama sekali musholla, niat gw mau nyari musholla terdekat + ada lapangannya buat naro motor gw parkir bentar. Udah keliling2 cari kesono kemare gak ketemu2 juga musholla. Akhirnya, terlintas di benak, biasanya musholla kayak gini ada di perkampungan rakyat, ya sudahlah begitu ada tegongan (belokan) kita nikunglah kekiri, setelah menyusuri jalan kecil muat untuk satu motor dan 1 orang pula. Gw nyari manusia yang memakai baju koko (baju muslim). Biasa2nya kalo gini hari orang pake baju gituan dipastikan abis dari musholla untuk sholat berjamaah, eh bener aja gak lama ketemu bapak2 lagi mau masuk rumah pake baju koko, teruslah berjalan lurus hingga akhirya ketemu! sebuah musholla kecil nan mungil dengan teras yang cukup besar untuk menaruh motor supra saya.

Beloklah saya, disitu ada banyak anak2 lagi pada ngobrol2 ketika saya sampai, parkir motor, mereka masih asyik saja bercerita bersama kawan2nya gak dipeduliin gw yg jauh2 sengaja datang kesitu (emang gw artis hehehe). ya sudahlah, diem sebentar, buka sepatu, konci motor. baru ambil air wudhu. Gak lama itu anak pada bubar main lagi atau kerumah masing2 entahlah. yang pasti ketika saya sudah selesai berwudhu. sudah ada bapak2 (tepatnya kakek2 mungkin??) sambil baca2 (berzikir kali ya) dan anak muda pantaran saya sedang duduk dan akhirnya tertidur, gak lama terlelap dalam buaian mimpinya (bukannya ngaji malah tidur!).

Saya memasuki pintu dalam musholla untuk menunaikan sholat maghrib. Setelah selesai, anak muda itu bangun, duduk kembali, terbengong. sedang kakek tsb tetap saja sibuk dengan zikirnya. Sedang asyik2nya melepas lelah ada HP saya berbunyi, takut mengganggu penghuni dalam, saya terima diluar musholla. Dari sodara saya menanyakan saya ada dirumah atau tidak. Dan ketika selesai anak muda tsb ikut2an keluar dan menatap saya, saya balas tatapannya ternyata saya kalah akhirnya saya nunduk, mundur kebelakang dan duduk berselonjor. dia masih saja menatap saya, entah apa yang ada dalam pikirannya, instingku bilang ini anak perlu disalamin nih (maksudnya disapa) cuma saya gak enak mau nyapa saya tidak terbiasa nyapa dengan orang asing. jadi ya kita diem2 aja deh.

udah dah tuh, saya sengaja diem disitu untuk menunggu adzan Isya datang, karena waktu memang tinggal 15 menit untuk adzan jadi tanggunglah daripada sampe rumah belom sholat mending sholat dijalan nanti dirumah tinggal mandi, makan, tidur. Adzan mulai berkumandang, anak2 kembali berdatangan, warga pun berduyun2 datang ke musholla tersebut, hatiku terenyuh, senang bukan main. rupanya.. inilah musholla idamanku. Masya Allah, rupanya masih ada musholla seperti ini.

musholla yang disitu terdapat banyak anak2 datang untuk sholat berjamaah atau untuk sekedar bermain2 diteras depannya. warga yang silaturahim dengan sesamanya. pedagang2 yang ngaso sebentar untuk melepas lelah berwudhu dan kemudian sholat setelah itu tertidur barang sejam-2jam. ini mengingatkaknku pada musholla dimasa kecilku, waktu itu musholla milik kakek buyutku (engkong dari mama saya). keadaannya persis seperti itu, disana aku dan kawan2 berbahagia dapat merasakan indahnya musholla yang dibangun oleh kakekku kala itu, musholla kecil tapi cukup luas untuk menampung warga sekitarnya. penduduknya pun masih asli semua belum tersentuh orang asing apalagi pendatang, belum, belum sama sekali!.

Kini, memori tersebut terngiang kembali dengan singgahnya aku dimusholla ini. Memori tentang masa kecilku bersama saudara2, teman2, adik2ku. bermain gundu, karet, bekel, tak kadal, tak jongkok, dan permainan tradisional lainnya. rindu aku ingin bermain seperti itu lagi. rindu sekali.. ingin.. sekali.. bermain dengan kawan2ku pada masa itu, bermain dengan saudara2ku, adik2ku. orang tua dan nenekku yang kerap kali mengomeli kami ketika kami berbuat tidak baik. rinduku padamu wahai manusia2 terindah dalam hidupku.

Tetapi kini, keadaan tidak seperti itu, musholla kami sudah dibangun cukup megah, dengan hanya menyisakan teras kecil yang cukup luas tetapi sempit. tidak ada lagi kulihat pedagang2 yang ngaso sebentar melepas lelah. tidak ada lagi canda tawa anak2 bermain2 di musholla tersebut. tidak ada lagi keramahan yang dipancarkan oleh musholla ku saat ini, kini musholla tersebut sepi… hhhh.. ya sudahlah, jadi nangis gw kalo ngereview yang semacem ini. nanti lah gw buatin reportnya secara khusus.

kembali ke topik!. setelah itu, Ya sholatlah kita beramai2, selesai, pulang menuju ke rumah. terlihat juru kunci sedang siap2 menggembok pintu2 musholla karena memang sudah tidak ada lagi warga yang kelihatan ingin sholat disitu. Menyusuri jalan di daerah mampang perkampungan rakyat dimana rumah2 warga disitu rapet sekali saking rapetnya, itu pintu rumah adanya pas banget dg jalanan jadi gak pake teras lagi. begitu jalanan langsung ruang keluarga, makanya disana banyak anak2 lagi pada nonton tivi sambil pintunya dibuka jadi keliatan dia lagi pada ngapain disitu.

setelah itu, melewati jalan agak besar, tapi masih kawasan perkampungan. ada banyak anak2 gadis dari umur 3 tahun sampe yang umur 20an tahun pada duduk2 dimana2, tentunya dikategorikan berdasarkan umur dan jenis kelamin dong! tau gak? cewek2nya ternyata cantik2 bro! ahuahuahaha. jadi pengen gw wwkwkwk. untungnya itu gadis yg masih ingusan gak pake baju2 seronok ya macem baju2 remaja lainnya yg menampilkan slogan “u can see”.

dalam hati gw berkata: “masya Allah, ternyata masih ada kampung di dalam kota yang begitu padat penduduknya, (mengingat gak berapa jauh dari situ ada jalan besar dengan gedung2 mewah disepanjangnya), dan ini belum tersentuh oleh pembangunan, saya harap tidak dan tidak akan pernah, biarlah perkampungan ini menjadi didikan bagi moral masyarakat yang cenderung mengikuti pola hidup gaya barat”.

Terlihat keramaian mobil, motor, dan deru yang dipicu oleh masing2 individu. Daku pun kembali bergabung dalam keramaian kota Jakarta… Musholla ku semoga kita dapat bertemu kembali suatu saat nanti. kuharap engkau tidak mengikuti gaya kehidupan saat ini, kuharap engkau berubah dengan perubahan yang aku harapkan, seiring bertambahnya keramahan yang engkau pancarkan dari pesona musholla mu.

Iklan

2 Tanggapan to “Masjid yang Ramah”

  1. di2wayang Says:

    Masjid atau musholla itu ibarat rumah sakit buat jiwa. kalau badan yg sakit mah berobatnya ke RS. tapi kalau jiwa yg sakit tu sembuhnya ke masjid. tul ga?

  2. Zoe Says:

    Betul banget.. Makanya klo saya lagi di jalan atau dimana entah singgah di suatu kampung saya akan menyempatkan mencari musholla terdekat, sekedar untuk melepas lelah atau mencari inspirasi dan hidayah yang terkandung didalamnya selain itu untuk memuaskan rasa haus jiwa saya yang kering setelah beraktifitas.

    eh, btw itu judul sama isi topik beda ya; judulnya masjid tapi isinya musholla hehe.. sorry salah ketik 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: