Menurut saya, seharusnya dalam etika jurnalistik suatu berita tidak boleh ada campur tangan dalam memublikasikan berita ke masyarakat. Entah itu oleh si pembuat, pencari, bahkan yang mempublish berita tersebut.
Kalaupun berita tersebut dicampur dengan opini si pembuat berita, maka seharusnya dalam isi berita tersebut ada kalimat yang menandakan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat yang dilontarkan oleh si penulis berita. Misalnya: dengan menampilkan pendapat, apakah anda setuju dengan bla…bla..bla.. tentang berita tersebut diatas? kirimkan opini Anda lewat forum detik pembaca. Nah, itu baru bukan pendapat, tetapi si penulis bermaksud untuk mendiskusikan berita tersebut lewat forum yang diselenggarakan oleh stasiun berita tersebut.
Gajinya 7 poundsterling per jam dan kerjanya sekitar 2 malam seminggu. Semua pengeluaran ditanggung, termasuk bir gratis untuk si pekerja itu.
Iklan itu dipasang oleh putranya.
Buat masyarakat Inggris yang punya tradisi bersosiliasi ke pub sekalipun, iklan itu terasa agak aneh.
Apakah bapak berusia 88 tahun itu, Jack Hammond, demikian candunya minum bir, apakah dia tidak bisa minum bir di rumah saja, dan apakah anaknya tak bisa menemaninya.Orang dibayar khusus untuk menemani minum bir di pub? Edan apa…
Tapi pendengar, sebenarnya cerita rada rumit. Jack Hammond, sebelumnya tinggal di Barton on Sea, sebuah kota pantai Inggris, dan istrinya sudah meninggal 12 tahun lalu.
Urusan perkawanan
Hidup sendiri, dia kemudian pergi pub 4 kali semalam untuk ngobrol dengan teman-temannya, sambil menenggak bir tentunya. bla…bla..bla..
Nah, dalam tulisan berwarna hijau saya pikir itu adalah kalimat berita yang bagus dan boleh untuk dibaca, tetapi dalam tulisan berwarna biru, itu menurut saya adalah opini yang dilontarkan oleh si pembuat berita, apalagi setelah ditambah oleh tulisan yang berwarna merah dengan kalimat Edan apa… menurut saya itu tidak bagus dalam penulisan suatu berita, saya rasa dalam etika jurnalistik pun tidak diperbolehkan. Karena kalau saya pahami kalimat Edan itu sama dengan Gila yang artinya dalam kalimat tersebut Gila apa... nah, itu tidak baik dalam mempublikasi suatu berita. karena yang namanya berita biarlah menjadi berita jangan dicampur adukkan dengan opini kita tanpa embel2. biarlah orang yang membaca berita kita, menilai sendiri berita yang terdapat dalam tulisan tersebut. Jangan udah apa2 kita merasa dituntut untuk menilai berita tersebut berdasarkan opini si pembuat berita.
Kemungkinan yang akan terpilih adalah seorang pria berusia 78 tahun yang masih bisa mengemudi namun keluarga Hammond memutuskan bahwa lamaran belum ditutup karena mereka ingin mencari teman ngobrol ayahnya yang paling asyik.
Saya sebenarnya tertarik juga untuk melamar. Tradisi ber-lisoi di lapo tuak toh kami kenal juga di kampung halaman di Sumatera Utara sana, juga sambil ngobrol atau kalau sudah kebanyakan tuaknya ya saling membual.
Dan sama dengan pub-pub di kawasan pedesaan Inggris, tuak di lapo juga beragam rasanya karena dibuat di industri rumah tangga.
Ada bir enak yang cuma ada di pub sana, ada tuak enak di lapo sini.
Tapi saya yakin tak akan lulus, karena tentulah akan amat sulit menjalin pembicaraan dengan seorang gentlemen Inggris dari generasi Perang Dunia kedua dulu.
Reaksi saya ketika membaca akhir dari berita tersebut adalah, saya BINGUNG!!, BINGUNG!!! koq bisa-bisanya ada nama lapo tuak toh?? di negeri barat??? terus koq ada tulisan Sumatera Utara sana, tuak di lapo??, tuak enak di lapo sini?? halah apa-apaan itu?? nulis berita koq jadi kayak nulis blog pribadi?? apalagi itu berita kan kantor berita resmi di Amerika untuk Indonesia.
Mohon maaf untuk saudara Liston Siregar, Wartawan BBC Siaran Indonesia. Mungkin Anda sedang mabok dalam menulis berita ini. atau mungkin Anda sedang bernostalGILA APA… atau mungkin Anda sedang membanggakan [berbangga hati] bahwa Anda pernah minum-minum dilapuk tuak toh bersama-sama teman-teman Anda dikampung halaman dulu?? sehingga Anda kurang konsen dalam menulis berita yang sewajarnya berdasarkan etika jurnalisme.
Kepada BBC Indonesia.com Anda harus memperhatikan tulisan yang Anda akan publish di website Anda. Anda harus memperhatikan kalimat2 apa yang pantas untuk diterbitkan di masyarakat.
Terima kasih, semoga Bapak Liston Siregar tidak mabok2 lagi dalam menulis berita, dan juga tidak menaruh cerita nostalGILA Anda dalam berita yang Anda muat. Kritik dan saran yang membangun akan membuat suatu organisasi menjadi lebih baik dan dapat introspeksi diri ke arah kebaikan. Bukan ke arah kemabokan atau ke gilaan seperti yang Anda kemukakan diatas.
Mohon maaf kalau sekiranya saya terlalu berlebihan dalam menulis berita Anda ini. Semoga ini menjadi pelajaran bagi Anda dimasa mendatang.
Update: 07Agustus2008
Saya harus menulis kalimat apa agar saya dapat menjelaskan bahwa berita yang dimuat dalam media elektronik tsb ternyata adalah sebuah surat dari london yang penulisnya (katanya) adalah seorang wartawan juga. Kalimat tersebut memang tidak ditulis dalam bagian berita tapi terdapat dalam tab yang paling atas, header browser [apa sih namanya!] ya begitulah pokoknya yg paling atas deket logo browser kamu.
Dan saya ucapkan terima kasih untuk Bapak/Bung/Saudara Ahlul dalam commentnya dibawah yang telah mengoreksi postingan saya. Dan telah memberikan kesan dan pesannya dan segala nasihat2nya yang terbaik untuk saya. Mudah2an untuk kedepannya saya akan lebih hati2 lagi dalam menulis, mohon bimbingannya..
Dan untuk media dan penulis yg saya sebutkan diatas [masa harus minta maaf lagi?? hehehe...] Mohon diperbaiki agar orang yg belum dan kurang teliti seperti saya dapat melihat postingan media Anda dikategorikan sebagai apa.
Mungkin itu saja yg dapat saya sampaikan, lebih kurangnya saya mohon maaf. Atau ada yg ingin menyampaikan pendapat lagi? dipersilahkan, ruang komentar masih terbuka untuk Anda semua.









